Skip to main content

Featured

Laoban & Distraksi Elit

Menjelang akhir pekan, adik perempuanku bilang kalau kakak sepupu kami bakal main ke rumah. Sekalian mampir Laoban Kopitiam buat kulineran singkat. Pas ditanya, "Mbak mau ikut?" I said "Iya". Lumayan untuk refreshing sebentar.  Minggu pagi (5 April), aku, kakak sepupu, adik perempuan & adik cowokku akhirnya berangkat. Tiba di Laoban sekitar jam 07.30 kalo gak salah. Kebetulan kami pelanggan pertama yang datang. Jadi masih sepi dan bisa leluasa memilih tempat duduk. Kami duduk di dekat AC, kursinya bersandar dan berhadapan. Begitu masuk Laoban, aku ngerasa kayak masuk ke cafe China lawas. Pencahayaannya mirip sama kedai yang sering muncul di drama China. Nuansa hangat, seolah kita memang disambut disana.  Setelah dapat buku menu dan tempat duduk, kami mulai sibuk nih milih mau makan apa pagi ini. Fyi, kami gak ada yang sarapan. Jadi memang niat sarapan di Laoban aja. Berhubung semalem aku udah lihat menu-menu Laoban di sosmed, aku putusin buat pesen n...

Hidup Selayaknya

 

Gimana sih, rasanya bisa hidup sesuai kadarnya? Gimana sih, rasanya hidup dengan hati plong dan bisa nerima apapun yang terjadi? Gimana juga ya rasanya hidup tanpa terpaku sama pencapaian orang lain?

Hidup selayaknya.

Satu hal yang mungkin, sampai hari ini masih aku usahakan. Bukan ‘layak’ berdasarkan standar orang lain. Tetapi ‘layak’ sesuai kemampuan dan kapasitas diriku. Aku sadar, hidupku lebih sering mengejar sesuatu yang ‘lebih’ daripada kapasitasku. Aku sibuk mengejar apa yang orang lain agungkan tentang hidup. Sementara aku tidak bisa menikmati hidupku sendiri. Aku jadi lupa bahwa aku harus hidup selayaknya manusia. Bisa gagal, marah, sedih, jatuh, bangkit, sukses, dan bahagia. Tidak harus selalu kuat dan keren seperti yang diharapkan orang. Cukup menjadi diriku dan menikmatinya.

As we can see, kita hidup di tengah zaman yang serba cepat. Entahlah. Aku merasa orang lain berlomba-lomba mencapai sesuatu dengan ambisius. Aku melihat banyak orang stress karena apa yang diinginkan tidak terwujud. Ya. Aku pernah ada di posisi itu. Rasanya capek, hidup dalam ambisius yang besar. Tapi pada akhirnya aku belajar memahami bahwa sebenernya, kita nggak boleh memaksakan hidup kita harus sama seperti orang lain. Lagipula hidup cuma sekali, boleh banget kok dinikmati sesuka hati. Asal jangan bablas aja.

Kita ini manusia. Punya kuasa atas diri sendiri tapi juga punya banyak keterbatasan. Tuhan tidak menuntut kita hidup di bawah keberlimpahan duniawi. Kita cuma diminta mempergunakan hidup dengan baik dan bijak. Ya kan?

 


See you,


Thanks 

Comments

Popular Posts